“Perdebatan pendapat di media sosial pasti sudah tidak asing lagi di benak kita. Diwarnai dengan adu kepintaran, bukti, referensi, hingga terkadang berujung hate speech. Ironinya lagi, saat kita sadar pendapat yang mereka bela tidak sepenuhnya tepat dan mereka tidak sadar

 

Dewasa ini kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah hoax, drama, penipuan, ataupun fenomena sejenis lainnya. Meningkatnya aktivitas berselancar ria di dunia maya memungkinkan viralnya informasi yang belum tentu kebenarannya. Berdasarkan laporan We Are Social, pengguna aktif media sosial di Indonesia telah mencapai 73,7% dari total penduduk per Januari 2022 atau sekitar 201,57 juta penduduk. Peningkatan jumlah pengguna aktif media sosial seiring dengan pertumbuhan penduduk yang telah mengadopsi internet di Indonesia yang telah mencapai 68,9% pada tahun 2022. 

Sayangnya, kebanyakan pengguna media sosial cenderung mudah terpengaruh oleh informasi yang beredar. Entah terpancing untuk ikut berdebat hal yang tidak jelas, kontroversi, teori-teori konspirasi antah berantah, hingga hate speech. Sebut saja perdebatan kaum bumi datar dan bentuk-bentuk lainnya, kelompok anti vaksinasi, perdebatan urusan rumah tangga artis, hingga informasi khas dari whatsapp group keluarga. Well, semua orang memang punya pendapat dan sudut pandang masing-masing. Tetapi apa jadinya jika pendapat itu benar-benar salah dan malah menyesatkan orang lain?

Gambar Saluran Penyebar Berita Hoax

Sumber: https://mastel.id/hasil-survey-wabah-hoax-nasional-2019/

Kebanyakan pengguna media sosial merasa sah-sah saja untuk menyampaikan kebenaran versi mereka. Toh sah-sah saja kan, lagipula ada tameng “kebebasan berpendapat” yang bisa melindungi. Dalam hal ini, tiap orang bisa saja merasa paling ahli dalam segala hal bermodalkan searching pada laman yang belum tentu valid juga. Mereka cenderung menolak untuk menerima pendapat lain yang menyalahi pendapatnya. Apalagi saat mereka merasa telah merasa melakukan research yang biasanya hanya mengandalkan berita atau tulisan di blog pribadi. 

Jebakan The Death of Expertise dan Krisis Critical Thinking

Tom Nichols, penulis buku Matinya Kepakaran; Perlawanan terhadap Pengetahuan yang Telah Mapan dan Mudaratnya (2018)—terjemahan dari The Death of Expertisemenyebutkan bahwa hal tersebut menjadi salah satu akibat dari runtuhnya kepakaran. Matinya kepakaran bukan berarti kematian kemampuan pakar yang sebenarnya, karena nyatanya akan selalu ada dokter, insinyur, pengacara, dan spesialis di bidang lainnya. Akan tetapi, matinya kepakaran merujuk pada pudarnya ketergantungan terhadap pakar sebagai teknisi. Singkatnya menurut Sugeng Winarno (2020), kondisi ini terjadi saat orang-orang mulai merasa mengetahui semua hal, walaupun mereka tidak memiliki kompetensi dan keahlian. 

Lalu bagaimana cara untuk terlepas dari jebakan the death of expertise? Tentu saja dengan membenahi budaya literasi dan pendidikan dengan berbasis critical thinking. Pendidikan kita saat ini, bahkan hingga jenjang perguruan tinggi, terkadang masih lebih menekankan substantif perkuliahan dibandingkan dengan esensi untuk membentuk kerangka berpikir yang kritis. Kita sebagai mahasiswa pun belum sepenuhnya terlepas dari jebakan ini. Setidaknya, kita wajib mengawal whatsapp group keluarga masing-masing!

Pada Akhirnya, Media Sosial Cuma “Media” (Alat)

Separah dan sengawur apapun dampak yang kita rasakan dari media sosial, pada akhirnya media sosial hanya sebuah media (alat). Alat yang harusnya kita kendalikan, bukan alat yang mengendalikan kita. Semua bergantung pada kita, sang pengguna media sosial. Kebebasan berpendapat yang terbuka lebar akibat media sosial adalah bentuk pemenuhan hak asasi setiap orang. Jadi, jangan sampai kebebasan kalian malah membelenggu kebebasan berpendapat orang lain atau malah ditunggangi oleh hoax.

Akan selalu ada berbagai pendapat yang tersebar, entah benar atau salah, entah sengaja atau tidak sengaja. Kita hanya perlu berusaha membentengi diri dan orang sekitar dengan menyaring informasi dengan baik. Terutama pada isu-isu penting yang menurut kita layak untuk diluruskan. Selebihnya, biarlah. Sebab hak berpendapat memang seharusnya tak dibatasi bukan?  Seperti kata Alm. Bj Habibie, “kamu bisa mengalahkan orang pintar dengan 1 fakta, tapi kamu tidak bisa mengalahkan 1 orang bodoh dengan 30 fakta sekalipun!”.

 

  • Khrisna Wasista Widantara

 

Sumber:

Mastel (2019). Hasil Survey Wabah HOAX Nasional 2019. Diakses pada 21 Februari 2021, dari https://mastel.id/hasil-survey-wabah-hoax-nasional-2019/

Nichols, Tom. (2018). Matinya Kepakaran: Perlawanan terhadap Pengetahuan yang Telah Mapan dan Mudaratnya. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

We Are Social. (2022). Digital 2022: Global Overview Report. Diakses pada 19 Februari 2021, dari https://wearesocial.com/uk/blog/2022/01/digital-2022/

Winarno, Sugeng. (2020). Menegur Para Pesohor Medsos. Diakses pada 21 Februari 2021, dari Arsip Publikasi Ilmiah Biro Administrasi Akademik Universitas Muhammadiyah Malang: http://research-report.umm.ac.id/index.php/API-BAA/article/view/4068


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.