EnviTalk 2025: Can Seagrass Be The Key to Solving The Ocean Carbon Crisis?

EnviTalk 2025: Can Seagrass Be The Key to Solving The Ocean Carbon Crisis?
Fakultas Geografi UGM (8/11/2015) – Environmental Geography Student Association (EGSA) melalui Divisi Pengabdian Lingkungan dan Masyarakat kembali menunjukkan kontribusinya terhadap pengembangan wawasan lingkungan dengan menyelenggarakan salah satu program kerja yang dirancang untuk membuka wawasan peserta mengenai berbagai isu lingkungan, yakni EnviTalk 2025. Pada tahun ini, Webinar EnviTalk 2025 mengusung tema “Can Seagrass Be The Key to Solving The Ocean Carbon Crisis?” yang dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom Meetings. Antusiasme peserta terhadap webinar ini tidak hanya berasal dari mahasiswa Universitas Gadjah Mada, tetapi juga dari mahasiswa Poltekkes Kemenkes Surakarta, Sekolah Tinggi Ilmu Statistika (STIS), Universitas Pembangunan Yogyakarta, Universitas Jenderal Soedirman, dan Universitas Negeri Semarang.
Tema yang diusung, yakni “Can Seagrass Be The Key to Solving The Ocean Carbon Crisis?” memiliki relevansi dengan kondisi lingkungan saat ini, terutama terkait meningkatnya konsentrasi karbon di atmosfer dan lautan. Lamun (seagrass) dikenal sebagai salah satu ekosistem blue carbon paling efektif dalam menyerap dan menyimpan karbon dalam jangka panjang, bahkan jauh lebih besar per satuan luas dibandingkan hutan daratan. Oleh karena itu, EnviTalk 2025 mengusung tema tersebut untuk mengajak serta mengedukasi para peserta memahami potensi ekosistem Lamun (Seagrass) dalam upaya mitigasi perubahan iklim, serta memahami urgensi pelestarian ekosistem pesisir sebagai bagian dari upaya global mengatasi perubahan iklim.
Pada pukul 09:00 WIB, kegiatan EnviTalk 2025 dimulai dengan pembukaan oleh Fathiin Lathiifa Arsa selaku Master of Ceremony (MC) yang menyambut seluruh peserta serta menyampaikan rangkaian acara yang akan berlangsung. Setelah dibuka oleh MC, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua EGSA, Najmie Azkal Fahmi yang menyampaikan apresiasi atas partisipasi semua pihak dan menyampaikan harapan agar kegiatan ini dapat memperluas wawasan peserta terhadap isu lingkungan. Selanjutnya, Perdana Yazid Lazuardi, selaku Ketua pelaksana kegiatan EnviTalk 2025 turut menyampaikan sambutan dengan harapan melalui kegiatan EnviTalk 2025 ini, dapat menjadi motivasi bagi para peserta untuk semakin peduli dan peka terhadap isu-isu lingkungan.
Menuju inti acara, Dinda Almas Nabila selaku moderator, mengambil alih peran MC dan memandu diskusi. Moderator memperkenalkan pembicara yang akan menyampaikan materi pada kegiatan EnviTalk 2025, yakni Ferry Febrian, S.Si., yang merupakan alumni Fakultas Geografi UGM pada program studi Kartografi dan Penginderaan Jauh. Mas Ferry saat ini menjabat sebagai Conservation Manager di Seagrass Indonesia. Selain menjabat sebagai Conservation Manager di Seagrass Indonesia, Mas Ferry juga merupakan Geospatial Analyst di PT. Trani Mine Sulawesi, serta sebagai Remote Sensing Analyst di CV. Kaulam Bumi Survindo.

Mas Ferry memulai sesi kepematerian dengan memperkenalkan Seagrass.id sebagai komunitas yang berfokus pada pelestarian padang laun. Berangkat dari keyakinan bahwa tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menghasilkan dampak besar, Seagrass Indonesia menjalankan upaya konservasi berbasis sains dan kolaborasi lintas sektor. Visi mereka adalah menjadi organisasi konservasi internasional berbasis teknologi untuk keberlanjutan ekosistem laut, yang diwujudkan melalui edukasi, penelitian, serta aksi restorasi. Mas Ferry menyampaikan bahwa Lamun (Seagrass) merupakan satu-satunya tumbuhan berbunga yang dapat hidup sepenuhnya di dalam air laut. Berbeda dari alga, lamun memiliki akar, daun, batang, bunga, serta mampu bereproduksi melalui biji. Karakteristik biologis ini menjadi ciri khas Lamun sebagai penyimpan karbon yang sangat efektif. Bahkan, berdasarkan pemodelan blue carbon, lamun mampu menyerap karbon hingga 35 kali lebih cepat dibandingkan hutan hujan. Indonesia sendiri memiliki 17 spesies lamun dan menjadi salah satu negara dengan biodiversitas lamun tertinggi di dunia, meskipun tingkat degradasinya mencapai 7% per tahun.

Lebih lanjut, Mas Ferry menyampaikan bahwa dalam pelaksanaan programnya, Seagrass.id mengembangkan kegiatan penanaman, penyemaian, dan restorasi menggunakan metode vegetatif serta didukung teknologi seperti penginderaan jauh, cloud computing, dan dashboard pemantauan. Program konservasi yang mereka jalankan, seperti kegiatan “MELAMUN” di Pulau Pari, berhasil melampaui target luas tanam dan peningkatan serapan karbon, menunjukkan efektivitas pendekatan konservasi berbasis data. Kolaborasi dengan berbagai universitas dan komunitas juga memperluas jangkauan edukasi dan partisipasi publik. Selain aksi lapangan, Seagrass.id aktif menggerakkan edukasi lingkungan melalui kampanye digital, kegiatan bersih pantai, serta program “From Coast to Campus” yang menghubungkan teknologi dengan pemberdayaan masyarakat. Upaya ini memperlihatkan bahwa konservasi lamun tidak hanya menyelamatkan ekosistem, tetapi juga mendukung ekonomi lokal dan meningkatkan literasi lingkungan.

Rangkaian materi yang disampaikan tersebut memberikan perspektif yang komprehensif mengenai peran penting lamun dan upaya konservasinya, sehingga membuka jalan bagi penarikan kesimpulan atas esensi pembahasan dalam sesi EnviTalk 2025 ini. Kesimpulan dari sesi kepematerian disampaikan oleh Moderator, yakni Indonesia yang kaya akan padang lamun memiliki potensi besar dalam mendukung keseimbangan lingkungan laut. Satu hektar padang lamun mampu menjadi habitat bagi ribuan ikan kecil serta tempat makan bagi satwa langka seperti dugong dan penyu. Melalui pendekatan ilmiah, kolaborasi lintas sektor, serta pemberdayaan masyarakat, Seagrass Indonesia menunjukkan bahwa konservasi tidak hanya berdampak ekologis, tetapi juga sosial dan edukatif. Dengan konsistensi dan inovasi, upaya ini menjadi langkah nyata menuju “Blue Carbon Future”, yaitu masa depan di mana laut menjadi solusi utama bagi krisis iklim global.

Setelah kesimpulan disampaikan, moderator kemudian membuka sesi tanya jawab sebagai wadah peserta untuk mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan mereka mengenai isu karbon laut atau mengenai isu lingkungan yang sedang terjadi saat ini. Salah satu pertanyaan yang menarik adalah bagian utara Indonesia yang wilayahnya lebih banyak digunakan untuk kegiatan industri memiliki dampak yang lebih besar, sehingga bagaimana dampaknya terhadap kapasitas karbon untuk jangka panjang. Mas Ferry kemudian menjawab bahwa terdapat titik-titik seagrass di wilayah selatan yang dipengaruhi oleh besarnya pasang surut serta tekanan oseanografi. Regulasi yang diperlukan adalah konservasi yang dapat diintensifkan melalui pembuktian luasan penanaman, yang harus terlihat jelas melalui pemodelan. Restorasi sebaiknya dilakukan pada wilayah yang tidak terdegradasi, seperti di beberapa lokasi di Jepara. Intervensi dapat dilakukan apabila tersedia bukti berupa luasan seagrass yang terverifikasi, kondisi yang terbukti tidak mengalami degradasi, serta adanya perhitungan serapan karbon yang mendukung.
Sebelum mengakhiri kegiatan EnviTalk 2025, diadakan kuis berhadiah melalui platform Kahoot dengan soal-soal yang telah dibuat oleh panitia dari materi yang telah disampaikan oleh Pembicara. Diadakannya kuis ini membuat suasana kegiatan EnviTalk 2025 semakin seru sekaligus menegangkan, dimana peserta berlomba-lomba menjawab pertanyaan dengan cepat dan tepat. Setelah kuis selesai, diumumkan 4 pemenang yang berhasil menjawab kuis dengan cepat dan tepat. Peserta yang berhasil meraih podium adalah Feby Sasha Putra, Syahangga, Mochfomalhutas, dan Akhdan dengan hadiah uang tunai sebagai apresiasi atas peraih skor tertinggi pada sesi kuis. Setelah kegiatan kuis selesai, dilanjutkan dengan penutup dengan sesi foto bersama yang dipandu oleh Fathiin selaku MC.

Sesi Foto Bersama

Panitia EnviTalk 2025
EnviTalk 2025 menyoroti peran penting lamun (seagrass) sebagai solusi blue carbon dalam menghadapi krisis iklim. Melalui materi yang disampaikan, peserta memahami potensi besar lamun di Indonesia sekaligus tantangan degradasi yang harus segera diatasi. Kegiatan ini juga menekankan pentingnya konservasi berbasis data, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi lintas sektor. Secara keseluruhan, EnviTalk 2025 berhasil meningkatkan kesadaran peserta dan mendorong semangat untuk berkontribusi dalam pelestarian ekosistem pesisir.
Sampai jumpa di program kerja EGSA berikutnya!
0 Comments