Diskusi Internal Pengkajian Isu Global (PIG) Ke-2 Periode 2024/2025 kembali diadakan pada 31 Oktober 2025 di Ruang D109 Gedung D Fakultas Geografi UGM. Diskusi Internal bertujuan untuk bertukar pikiran dan berpendapat terhadap polemik yang sedang hangat mencuat di masyarakat. Peserta diskusi kali ini terdiri dari perwakilan setiap divisi yang ada di EGSA, yang berkumpul untuk membahas isu infrastruktur transportasi yang tengah menjadi sorotan publik. Artikel di bawah merupakan hasil pemikiran pembicara melalui hasil diskusi. Penasaran dengan hasil diskusinya? Yuk simak artikel berikut!

 

Foto Setelah Diskusi Internal EGSA UGM secara Luring

Kereta Cepat Whoosh: Investasi Strategis atau Beban Ekonomi Jangka Panjang Indonesia?

Pada 2 Oktober 2023, Indonesia mencatatkan sejarah baru di sektor transportasi dengan beroperasinya Kereta Cepat Whoosh, kereta api berkecepatan tinggi pertama di Indonesia dan Asia Tenggara. Dengan kecepatan maksimal 350 kilometer per jam, Whoosh memangkas waktu tempuh Jakarta-Bandung yang biasanya 2-3 jam menjadi hanya sekitar 40 menit. Prestasi teknis yang mengagumkan ini menjadikan Whoosh sebagai simbol modernitas Indonesia di kancah regional. Namun, di balik gemerlap teknologi dan efisiensi waktu, muncul pertanyaan krusial yang terus menggema dalam diskusi publik: apakah Whoosh merupakan investasi strategis yang akan membuahkan hasil di masa depan, atau justru menjadi beban ekonomi jangka panjang yang memberatkan negara?

Proyek senilai lebih dari 120 triliun rupiah ini dibiayai sebesar 75 persen melalui pinjaman China Development Bank, sementara 25 persen sisanya berasal dari setoran modal pemegang saham – gabungan PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia dan Beijing Yawan HSR Co. Ltd. Yang awalnya diproyeksikan menghabiskan US$5,5 miliar, biaya pembangunan terus membengkak hingga mencapai maksimal US$7,97 miliar akibat berbagai kendala teknis, pembebasan lahan, dan dampak pandemi COVID-19. Pembengkakan biaya ini menambah beban utang dengan bunga yang meningkat dari 2 persen menjadi 3,4 persen per tahun, menciptakan tantangan finansial yang signifikan bagi Indonesia.

Janji Modernitas dan Konektivitas

Sejak beroperasi, Whoosh telah melayani lebih dari 4 juta penumpang, termasuk 566 ribu wisatawan asing yang tertarik merasakan pengalaman berkendara dengan kereta tercepat di Asia Tenggara. Pencapaian ini menandai antusiasme masyarakat terhadap inovasi transportasi modern yang ditawarkan. Dengan tiga pilihan kelas Premium Economy (Rp250.000-275.000), Business (sekitar Rp450.000), dan First Class (sekitar Rp600.000) Whoosh menghadirkan variasi layanan yang menyasar berbagai segmen pasar.

Mantan Presiden Joko Widodo, yang meresmikan proyek ini, menegaskan bahwa Whoosh bukanlah proyek yang dirancang untuk mencari keuntungan finansial jangka pendek. Menurutnya, kemacetan di Jakarta mengakibatkan kerugian ekonomi sekitar Rp65 triliun per tahun, sementara di wilayah Jabodetabek dan Bandung mencapai lebih dari Rp100 triliun per tahun. Dalam perspektif ini, Whoosh merupakan investasi sosial yang bertujuan meningkatkan produktivitas masyarakat dengan mengurangi waktu perjalanan yang terbuang akibat kemacetan. Argumen ini menekankan bahwa evaluasi keberhasilan proyek tidak semata-mata terletak pada profit margin, melainkan pada manfaat sosial ekonomi yang lebih luas—social return on investment.

Dari aspek lingkungan, Whoosh diklaim berkontribusi signifikan dalam mengurangi emisi karbon. Analisis dari Institute for Essential Services Reform (IESR) menunjukkan bahwa 1 juta penumpang Whoosh berkontribusi terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar kurang lebih 13 ton, dibandingkan jika mereka menggunakan kendaraan pribadi. Dengan emisi hanya 0,05 kilogram karbon per perjalanan dan menggunakan tenaga listrik, Whoosh diposisikan sebagai bagian dari upaya Indonesia menuju transisi energi yang lebih ramah lingkungan. Ini sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan yang menjadi komitmen pemerintah dalam kerangka Asta Cita, khususnya dalam memperkuat ekonomi hijau dan pembangunan rendah emisi.

Dampak ekonomi regional juga menunjukkan sinyal yang cukup menggembirakan. PDRB Jawa Barat tercatat naik 5,23 persen, meskipun tidak dapat dipastikan bahwa peningkatan ini semata-mata disebabkan oleh keberadaan Whoosh. Yang jelas, hadirnya kereta cepat telah membuka peluang ekonomi baru bagi pelaku UMKM di sepanjang jalur kereta. Kolaborasi dengan berbagai mitra transportasi lanjutan seperti LRT Jabodebek, shuttle pariwisata, dan bus feeder memperluas jangkauan destinasi wisata seperti Lembang, Ciwidey, dan Pangalengan, yang kini semakin ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Mengacu pada pengalaman internasional, proyek kereta cepat memang memerlukan periode inkubasi yang panjang sebelum mencapai titik impas. Bank Dunia mencatat bahwa proyek kereta cepat di berbagai negara umumnya membutuhkan waktu 5 hingga 10 tahun untuk mencapai keseimbangan ekonomi. Bahkan Shinkansen di Jepang, yang kini menjadi ikon transportasi modern dunia, pada awalnya mengalami periode di mana jumlah penumpang belum optimal. Dengan rancangan operasional selama 50 tahun ke depan, harapannya Whoosh akan terus mengalami peningkatan jumlah penumpang seiring dengan perubahan budaya masyarakat dalam menggunakan transportasi umum.

Realitas Beban Ekonomi dan Dampak Sosial

Namun, optimisme tersebut berhadapan dengan realitas finansial yang mengkhawatirkan. PT Pilar Sinergi mencatat kerugian Whoosh pada tahun 2024 mencapai Rp4,195 triliun, dengan tren negatif berlanjut pada semester pertama 2025 dengan nilai kerugian sebesar Rp1,63 triliun. Beban utang yang mencapai sekitar US$7,27 miliar dengan bunga yang terus bertambah menjadi momok yang menghantui keberlanjutan proyek ini. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan tegas menyatakan enggan membiayai utang proyek ini menggunakan APBN, menegaskan bahwa beban finansial seharusnya ditanggung oleh korporasi yang menjalankan proyek bisnis-ke-bisnis ini.

Polemik semakin memanas ketika muncul dugaan mark up anggaran yang diungkapkan oleh Mahfud MD. Menurut pernyataannya, Indonesia memperhitungkan biaya pembangunan kereta cepat sebesar US$52 juta per kilometer, sementara berdasarkan perhitungan China, biaya per kilometer hanya US$17-18 juta—selisih yang mencapai hampir tiga kali lipat. Indikasi ini menambah keraguan publik terhadap transparansi dan akuntabilitas pengelolaan proyek, apalagi KPK kini tengah menyelidiki dugaan korupsi terkait proyek Whoosh sejak Oktober 2025.

Aksesibilitas menjadi persoalan krusial lainnya. Harga tiket yang berkisar antara Rp150.000 hingga Rp600.000 hanya terjangkau oleh kalangan menengah ke atas, sementara sebagian besar masyarakat Indonesia dengan tingkat pendapatan yang terbatas kesulitan menikmati fasilitas ini. Padahal, proyek ini dibiayai dengan utang negara yang pada akhirnya menjadi tanggung jawab publik secara tidak langsung melalui konsorsium BUMN. Kritik tajam pun muncul: mengapa infrastruktur yang dibangun dengan dana publik hanya bisa dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat?

Dari perspektif teknis, rute Whoosh yang hanya menghubungkan Jakarta dan Bandung dengan jarak sekitar 142 kilometer dianggap terlalu pendek untuk menjustifikasi investasi yang begitu besar. Banyak alternatif transportasi lain—seperti tol Jakarta-Bandung dan jasa travel yang dapat menempuh jarak tersebut dengan biaya jauh lebih murah, meskipun dengan waktu tempuh yang lebih lama. Ditambah lagi, masalah operasional seperti delay akibat jalur yang melintasi daerah sesar mengurangi reliabilitas yang seharusnya menjadi keunggulan utama transportasi modern ini.

Luka Yang Tertingal Sepanjang Jalur

Yang sering terlupakan dalam perdebatan ekonomi makro adalah dampak sosial dan lingkungan yang dialami warga di sepanjang jalur pembangunan. Meskipun dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) proyek Whoosh mencantumkan berbagai potensi dampak—seperti getaran, kebisingan, debu, dan gangguan terhadap cadangan air—kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa mitigasi yang dijanjikan jauh panggang dari api.

Warga Perumahan Tipar Silih Asih di RT 4 RW 13, Desa Laksanamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, menjadi salah satu korban paling nyata. Rumah-rumah mereka rusak dan ambles akibat dugaan peledakan terowongan proyek kereta cepat. Meskipun warga telah berkali-kali melaporkan permasalahan ini kepada Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat, hingga kini belum ada penyelesaian yang memuaskan. Getaran yang ditimbulkan oleh kereta yang melaju dengan kecepatan tinggi terus menyebabkan keretakan pada dinding dan struktur bangunan warga, menciptakan rasa tidak aman di tempat yang seharusnya menjadi perlindungan paling fundamental bagi keluarga mereka.

Di wilayah Bandung Barat lainnya, seperti Tagogapu, warga mengeluhkan kesulitan mendapatkan air bersih sejak pembangunan dimulai. Jalur kereta yang dibangun dikhawatirkan merusak cadangan air tanah dan mengganggu aliran sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat. Petani di beberapa lokasi juga mengalami gagal panen akibat sawah mereka terendam atau irigasi yang rusak karena pembangunan infrastruktur kereta cepat. Bagi mereka yang bergantung pada pertanian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dampak ini sangat terasa, terutama di tengah tekanan ekonomi pasca-pandemi COVID-19.

Direktur Eksekutif Walhi Jawa Barat, Wahyudin, menekankan bahwa hingga kini di berbagai wilayah yang terkena dampak aktivitas pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung, permasalahan yang dikeluhkan masyarakat belum kunjung selesai. Baik PT KCIC maupun pemerintah Indonesia sebagai pemberi proyek dinilai belum menunjukkan niat baik dalam menuntaskan persoalan lingkungan, sosial, dan hak asasi manusia yang timbul. Walhi Jawa Barat mencatat setidaknya ada 23 kasus terkait langsung dengan proyek kereta cepat, mulai dari perizinan, lingkungan, sosial, hingga kecelakaan kerja. Namun, aspek lingkungan, sosial, dan HAM justru menjadi yang paling diabaikan.

Ironi terbesar adalah bahwa proyek yang diklaim sebagai upaya transisi menuju ekonomi hijau justru meninggalkan jejak kerusakan lingkungan yang signifikan di fase pembangunannya. Meskipun emisi operasional Whoosh memang lebih rendah dibandingkan kendaraan pribadi, kerusakan ekosistem, hilangnya lahan pertanian, dan gangguan terhadap sumber air yang terjadi selama konstruksi menciptakan pertanyaan: apakah manfaat lingkungan jangka panjang benar-benar bisa mengompensasi kerusakan yang telah terjadi?

Antara Harapan dan Kenyataan

Pemerintah saat ini tengah memutar otak mencari solusi untuk mengatasi beban utang Whoosh. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Infrastruktur dan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkapkan bahwa beberapa opsi tengah dikembangkan dalam koordinasi lintas kementerian/lembaga bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Danantara kini menjadi pihak yang bertanggung jawab atas pengelolaan dan pembayaran utang proyek ini, mengambil alih beban yang sebelumnya ditanggung konsorsium BUMN. Namun, detail skema penyelesaian utang masih dalam tahap pembahasan dan belum dapat disampaikan secara final kepada publik.

Yang menjadi pertanyaan krusial adalah: bagaimana Indonesia bisa melanjutkan rencana ambisius pembangunan kereta cepat Jakarta-Surabaya jika permasalahan finansial dan operasional Whoosh belum terselesaikan dengan baik? Transparansi dalam pengelolaan proyek, akuntabilitas dalam penggunaan dana, dan komitmen serius untuk menyelesaikan dampak sosial-lingkungan yang ditimbulkan menjadi prasyarat yang harus dipenuhi sebelum melangkah lebih jauh.

Perdebatan mengenai Whoosh pada dasarnya mencerminkan dilema klasik dalam pembangunan infrastruktur besar: antara visi jangka panjang dan realitas keterbatasan sumber daya. Di satu sisi, Indonesia membutuhkan terobosan dalam sistem transportasi untuk meningkatkan konektivitas dan produktivitas ekonomi. Whoosh, dengan segala kelebihan teknologinya, membuka peluang bagi transformasi pola mobilitas masyarakat dari ketergantungan pada kendaraan pribadi menuju transportasi massal yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Di sisi lain, beban finansial yang berat, keterjangkauan yang terbatas, dan dampak negatif yang belum terselesaikan menciptakan keraguan apakah proyek ini benar-benar memberikan manfaat yang sepadan dengan pengorbanan yang harus ditanggung.

Pengalaman negara-negara lain menunjukkan bahwa keberhasilan proyek kereta cepat sangat bergantung pada perencanaan yang matang, manajemen keuangan yang transparan, komitmen terhadap mitigasi dampak lingkungan dan sosial, serta kemampuan untuk beradaptasi dengan kondisi lokal. Indonesia perlu belajar dari pengalaman ini. Whoosh tidak boleh hanya menjadi simbol modernitas yang indah di permukaan, sementara di baliknya menyisakan utang yang memberatkan dan luka-luka sosial yang tidak tersentuh.

Diskusi Internal PIG Ke-2 periode ini telah menghadirkan berbagai perspektif yang memperkaya pemahaman mengenai kompleksitas permasalahan yang dihadapi proyek Kereta Cepat Whoosh. Dari ruang diskusi di Gedung D Fakultas Geografi UGM, terdengar suara-suara kritis yang tidak hanya mempertanyakan aspek ekonomi, tetapi juga menyentuh dimensi keadilan sosial, keberlanjutan lingkungan, dan tanggung jawab pemerintah terhadap rakyatnya. Harapannya, opini dan argumen yang telah disampaikan dapat menjadi masukan berharga bagi pengambil kebijakan dalam mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas proyek Whoosh. Keberhasilan Whoosh tidak hanya akan diukur dari seberapa cepat ia melaju, tetapi dari seberapa inklusif manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia, dan seberapa bijak Indonesia mengelola beban yang menyertainya demi kepentingan nasional yang lebih luas dan berkelanjutan.

 

Sumber:

https://www.tempo.co/politik/sejarah-kereta-cepat-whoosh-proyek-warisan-jokowi-yang-tengah-diusut-kpk

https://kabar24.bisnis.com/read/20251016/15/1920913/mahfud-ungkap-dugaan-mark-up-proyek-kereta-cepat-whoosh-jakarta-bandung

https://bandungbergerak.id/article/detail/1597562/melihat-dampak-yang-ditinggalkan-whoosh

https://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/pr-018061477/kereta-cepat-woosh-melesat-melanggar-ham-dan-diam

https://money.kompas.com/read/2025/10/28/095453926/proyek-kereta-cepat-whoosh-alasan-dibangun-utang-dan-tantangan-pembiayaan

https://www.antaranews.com/berita/4211031/mengenal-kereta-cepat-jakarta-bandung-whoosh

https://solum.id/green-lifestyle/seberapa-besar-dampak-lingkungan-kereta-cepat-whoosh/

 

 

 


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.