Ancaman Krisis Iklim di Balik Gunungan Sampah Bantar Gebang

Published by nafishaagistyramadhani2007 on

Overthinking #1 ·  EGSA 2026/2027

Ancaman Krisis Iklim di Balik Gunungan Sampah Bantar Gebang

Oleh: Nashifah Nailatusy Syarafah dan Farid Rizky Darmawan

Senin, 25 Mei 2026  · Yogyakarta ·  EGSA 2026/2027

Gambar 1.1 Foto udara antrean truk di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi Jawa Barat, Rabu (15/10/2025).

Sumber: ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah, 2025.

Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang yang memiliki luas 110,3 hektar dan telah beroperasi sejak tahun 1989 telah lama menjadi tempat berakhirnya jutaan ton sampah dari seluruh DKI Jakarta setiap harinya. Gunungan sampah yang menjulang tinggi di Kota Bekasi tersebut menjadi gambaran nyata besarnya limbah yang dihasilkan masyarakat perkotaan. Setiap hari, sekitar 7.000 hingga 8.000 ton sampah dikirim menuju Bantar Gebang dan jumlahnya terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk serta pola konsumsi masyarakat perkotaan. Sampah yang ada di Bantar Gebang didominasi oleh sampah rumah tangga dan sampah plastik, kemudian sampah lainnya berupa sampah tekstil, sampah kering, dan sampah residu. 

Di balik timbunan sampah itu, muncul ancaman yang sering tidak terlihat secara langsung, yaitu gas metana. Gas ini mulai menjadi perhatian karena dihasilkan dari pembusukan sampah organik dalam jumlah besar dan berkontribusi terhadap pemanasan global. Persoalan sampah yang sebelumnya dianggap hanya berkaitan dengan kebersihan kota kini berkembang menjadi isu lingkungan yang jauh lebih serius. Bantar Gebang tidak lagi sekadar tempat pembuangan akhir, tetapi juga simbol hubungan antara aktivitas manusia, ledakan sampah, dan krisis iklim global.

Gambar 1.2 Peringkat pengeluaran emisi yang dihasilkan dari berbagai negara.

Sumber: UCLA Law, 2026

Berdasarkan laporan terbaru bertajuk “Spotlight on the Top 25 Methane Plumes in 2025: Landfills” yang dirilis UCLA School of Law pada 20 April 2026, Bantar Gebang dinobatkan sebagai penyumbang emisi gas metana terbesar kedua di dunia. Bantar Gebang dinyatakan mengeluarkan emisi metana 6,3 ton/jam yang hanya memiliki perbedaan 1,3 ton dengan TPST Campo de Mayo, Argentina. Selain menjadi kedua terburuk di dunia, TPST Bantar Gebang juga menjadi yang terburuk di Asia, mengalahkan Malaysia, India, dan Tailan. 

Gambar 1.3 Peta emisi metana Kota Bekasi, Jawa Barat.

Sumber: datacarbonmapper.org 

Gas metana atau CH₄ merupakan salah satu gas rumah kaca yang tidak berwarna dan mudah terbakar. Gas metana terbentuk dari proses pembusukan bahan organik dalam kondisi minim oksigen. Umumnya, gas metana digunakan sebagai salah satu aspek pembuatan gas alam dan bahkan sebagai pembangkit listrik. Di tempat pembuangan akhir seperti Bantar Gebang, sisa makanan, dedaunan, dan limbah rumah tangga yang telah menumpuk selama puluhan tahun akan terurai secara anaerob dan menghasilkan metana. Semakin besar timbunan sampah organik, semakin besar pula emisi gas yang dilepaskan ke atmosfer. 

Dalam jumlah sedikit, metana tidak berbahaya dan hanya menimbulkan bau yang menyengat, dalam jumlah yang besar, gas metana berpotensi menimbulkan ledakan yang besar. Gas metana yang menumpuk juga bisa menjadi ancaman serius jika menumpuk dalam jumlah yang besar, terutama karena potensi kebakaran yang dapat ditimbulkan. Menurut laporan Aliansi Zero Waste Indonesia pada 2023, sekitar 38 TPA terbakar karena ledakan gas metana yang dipicu cuaca panas. Peningkatan suhu udara yang ekstrem serta kelembaban yang tinggi menjadi pemicu utama ledakan di TPA.

Selain kebakaran, gas metana juga berperan dalam pembentukan ozon troposfer yang berbahaya, yang berarti metana juga memiliki andil dalam memicu pemanasan global. Gas metana mampu merangkap panas jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida. Gas metana memiliki potensi pemanasan global 27 hingga 29,8 kali lebih kuat dibanding karbon dioksida. Dalam jangka panjang, gas ini akan memberikan efek pemanasan yang berkali-kali lebih besar daripada CO₂ sehingga dapat mempercepat kenaikan suhu bumi. Ketika emisi metana terus meningkat, risiko perubahan iklim seperti cuaca ekstrem, kekeringan, banjir, dan gelombang panas juga semakin besar. Persoalan ini menunjukkan bahwa sampah bukan hanya masalah lingkungan lokal, tetapi juga bagian dari krisis global. Timbunan sampah di Bantar Gebang secara tidak langsung memiliki kaitan dengan perubahan iklim yang kini dirasakan di berbagai wilayah dunia. Oleh karena itu, pengelolaan sampah seharusnya tidak hanya dipandang sebagai urusan membuang limbah, tetapi juga bagian penting dari upaya menjaga kestabilan iklim.

Meningkatnya volume sampah di Bantar Gebang tidak terlepas dari pola kehidupan masyarakat perkotaan yang semakin konsumtif. Urbanisasi, pertumbuhan penduduk, dan gaya hidup modern membuat penggunaan produk sekali pakai terus meningkat. Plastik kemasan, makanan cepat saji, hingga belanja daring menghasilkan limbah dalam jumlah besar setiap hari. Selain itu, tingginya food waste atau limbah makanan turut memperbesar dominasi sampah organik di TPA. Banyak makanan yang sebenarnya masih layak konsumsi justru dibuang dan akhirnya membusuk menjadi penghasil metana. Kondisi ini menunjukkan bahwa ledakan sampah bukan hanya dipengaruhi jumlah penduduk, tetapi juga kebiasaan konsumsi manusia modern. Kota menikmati berbagai kemudahan konsumsi, sementara lingkungan harus menanggung dampak ekologis yang terus membesar.

Di balik aktivitas pembuangan sampah di TPA Bantar Gebang, masyarakat sekitar TPA menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Bau menyengat dari timbunan sampah, pencemaran udara, serta risiko gangguan kesehatan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga sekitar. Namun, persoalan Bantar Gebang kini tidak lagi sekadar tentang bau dan pencemaran. Timbunan sampah yang terus meninggi mulai berubah menjadi ancaman fisik yang nyata. Maret 2026, longsor gunungan sampah di Zona 4 TPST Bantar Gebang menewaskan tujuh orang serta menimbun truk dan warung warga di sekitar lokasi (Lumbanrau, 2026). Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa timbunan sampah yang terlalu tinggi dapat berubah menjadi bencana layaknya longsor tanah biasa. Selain itu, lindi dari sampah juga berpotensi mencemari tanah dan air di sekitar kawasan. Kondisi ini memperlihatkan adanya ketimpangan lingkungan antara kota dan wilayah pinggiran. Masyarakat perkotaan menghasilkan sampah dalam jumlah besar, tetapi dampaknya justru ditanggung oleh warga di sekitar tempat pembuangan akhir.

Persoalan Bantar Gebang menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah di Indonesia masih sangat bergantung pada pola kumpul, angkut, dan buang. Sampah terus dipindahkan ke TPA tanpa pengurangan dari sumbernya. Minimnya pemilahan sampah membuat limbah organik dan anorganik bercampur sehingga memperbesar produksi metana di landfill. Akibatnya, TPA menjadi semakin penuh sementara volume sampah terus meningkat setiap hari. Jika pola pengelolaan seperti ini terus dipertahankan, ancaman lingkungan di Bantar Gebang akan semakin sulit dikendalikan.

Untuk mengurangi beban lingkungan di Bantar Gebang, pengurangan sampah perlu dimulai dari sumbernya. Pemilahan sampah rumah tangga, pengolahan sampah organik menjadi kompos, dan daur ulang limbah anorganik dapat membantu mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA. Di sisi lain, perubahan gaya hidup masyarakat juga menjadi langkah penting, terutama dengan mengurangi food waste dan penggunaan barang sekali pakai. Tanpa perubahan perilaku konsumsi, jumlah sampah akan terus meningkat dan memperbesar ancaman emisi metana di masa depan. 

Gas metana dari timbunan sampah sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif, seperti biogas. Pemanfaatan gas metana ini telah diterapkan di beberapa tempat melalui konsep waste to energy, yaitu pengolahan sampah menjadi sumber energi. Salah satu contohnya terdapat pada penelitian oleh Armi dan Mandasari (2017) di TPA Gampong Jawa, Banda Aceh, yang memanfaatkan gas metana hasil pembusukan sampah organik untuk disalurkan ke rumah-rumah warga sebagai bahan bakar memasak. Gas dari timbunan sampah ditangkap menggunakan instalasi pipa vertikal dan horizontal, kemudian dialirkan ke tempat penampungan sebelum didistribusikan ke masyarakat. Program tersebut tidak hanya membantu mengurangi emisi gas rumah kaca ke atmosfer, tetapi juga memberi manfaat ekonomi bagi warga sekitar TPA. 

Gunungan sampah di Bantar Gebang pada akhirnya bukan hanya tentang limbah, tetapi tentang bagaimana pola hidup manusia meninggalkan jejak bagi lingkungan. Sampah yang dibuang setiap hari ternyata dapat berubah menjadi ancaman iklim ketika terus menumpuk tanpa pengelolaan yang baik. Persoalan ini menunjukkan bahwa krisis lingkungan tidak selalu berasal dari sesuatu yang jauh, melainkan dari aktivitas sehari-hari manusia sendiri. Bantar Gebang menjadi pengingat bahwa hubungan antara manusia dan lingkungan perlu diperbaiki sebelum dampaknya menjadi semakin besar. Jika tidak ada perubahan dalam cara masyarakat mengonsumsi dan mengelola sampah, gunungan sampah tersebut akan terus tumbuh bersama ancaman krisis iklim di baliknya.

DAFTAR PUSTAKA

Armi, & Mandasari, D. (2017). Pengelolaan sampah organik menjadi gas metana. Serambi Saintia, 5(1).

Lumbanrau, E. R. (2026, Maret 10). Longsor sampah di TPST “terbesar di Asia Tenggara” Bantargebang tewaskan tujuh orang – “Cerminan sistem pengelolaan sampah yang amburadul.” BBC NEWS Indonesia. Diakses pada 12 Mei 2026. https://www.bbc.com/indonesia/articles/ce3g7gkj493o 

Nicholas, T. (2026, Mei 8). Ketika Sampah Menghasilkan Gas: Realitas Metana di Bantargebang. Diakses pada 13 Mei 2026. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2026/05/08/ketika-sampah-menghasilkan-gas-realitas-metana-di-bantargebang

UCLA LAW. (2026, April 20). Spotlight on the Top 25 Methane Plumes in 2025: Landfills.  Diakses pada 12 Mei 2026.  https://law.ucla.edu/news/spotlight-top-25-methane-plumes-2025-landfills 

Wardhana, D. R. N. (2026, Mei 4). Gunungan Sampah Bantargebang, Penyumbang Gas Metana Terbesar Nomor 2 Dunia. Diakses pada 13 Mei 2026. https://kumparan.com/ap-dimas-rahmat-naufal/gunungan-sampah-bantargebang-penyumbang-gas-metana-terbesar-nomor-2-dunia-27IGPzgUbpn


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.