DISKUSI INTERNAL #1 · EGSA 2026/2027
Patriarki: Warisan yang Tidak Bisa Kita Buang Begitu Saja?
Berpikir Sebagai Spesies: Bagaimana Dampak Sistem Patriarki pada Spesies Kita?
Kamis, 7 Mei 2026 · Siti Nurbaya Center, KLMB Lt. 5 · EGSA 2026/2027
Topik yang diangkat di Diskusi Internal perdana EGSA 2026/2027 ini memang tidak ringan: patriarki. Tapi yang menarik, diskusi tidak berhenti di definisi atau sekedar mengutuk sistem ini. Justru yang dicoba adalah menelusuri ke mana akarnya tumbuh, jauh sebelum kata “patriarki” itu sendiri dikenal. Hasilnya? Banyak perspektif yang bertabrakan, tidak ada yang sepenuhnya salah, dan tidak ada kesimpulan yang cukup berani untuk menutup perdebatan. Mungkin memang begitu seharusnya.
Apa Itu Patriarki?
Sumber: Medium
Secara sederhana, patriarki adalah sistem di mana laki-laki memegang kendali atas keputusan, atas sumber daya, atas siapa yang boleh bicara dan siapa yang cukup diam. Dalam kajian sosiologi modern, definisi ini diperluas dimana patriarki bukan hanya soal relasi antara laki-laki dan perempuan, tetapi tentang bagaimana kekuasaan itu diatur secara sosial, politis, dan ekonomi oleh laki-laki.
Dalam sistem ini, laki-laki punya keistimewaan (privilege) yang sering kali tidak perlu mereka minta seperti kontrol atas properti, otoritas moral dalam keluarga dan komunitas, dan berbagai posisi yang secara default lebih dipercaya di ruang publik. Perempuan, sebaliknya, kerap berada di posisi subordinat tidak selalu karena dipaksa secara kasar, tapi karena sistem itu sendiri sudah dirancang sedemikian rupa sehingga subordinasi itu terasa wajar.
Hal inilah yang membuatnya sulit dilihat, terlebih kembali untuk diubah. Patriarki tidak selalu hadir dalam bentuk larangan eksplisit. Terkadang patriarki hidup dalam asumsi-asumsi kecil yang kita telan tanpa sadar seperti siapa yang layak memimpin, siapa yang sebaiknya diam, dan mungkin siapa yang “terlalu ambisius”.
Bagaimana Sebenernya Patriarki Muncul?
Illustrasi awal mula kehidupan bertani.
(Sumber: Zdenek Burian dalam Prehistoric Man, 1960)
Sebenernya, konsesus umum mengatakan patriarki tidak lahir dari niat jahat. Patriarki muncul karena situasi menuntutnya, atau setidaknya, itulah yang terjadi ribuan tahun lalu ketika manusia mulai beralih dari hidup berpindah ke kehidupan menetap sebagai petani, sekitar 10.000 SM.
Bertani itu berbeda dari berburu. Ladang tidak bisa ditinggal. Lahan butuh dijaga, digarap, dan dipertahankan. Dan semakin besar komunitas, semakin besar kebutuhan akan tenaga yang dimana pada waktu itu juga berarti akan lahir lebih banyak anak. Perempuan, yang secara biologis menanggung kehamilan dan menyusui, secara praktis lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Sementara laki-laki mengisi ruang di luar baik bercocok tanam, berdagang, berperang, atau memimpin.
Dari pembagian yang awalnya pragmatis ini, muncullah hierarki. Mereka yang hadir di ruang publik akan menjadi yang mengontrol lahan, yang memimpin kelompok, yang menentukan hasil pertempuran, dan secara lambat laun akan mendapat status lebih tinggi. Dan status itu mengeras jadi struktur. Faktanya, kekerasan yang diciptakan oleh otot laki-laki yang mampu menggunakan energi secara serentak, yang berbeda dari otot perempuan (Nuzzo, 2014), adalah alasan mengapa berbagai bangsa dapat berdiri dan mengapa berbagai perang terjadi.
Yang menarik, sebelum transisi besar ini, gambaran gender tidak sesempit itu. Penelitian Gurven & Hill (2009) mencatat bahwa perempuan juga pernah mengambil peran sebagai pemburu, dan laki-laki pun tidak asing dengan kegiatan meramu. Garis antara “tugas laki-laki” dan “tugas perempuan” jauh lebih cair di masa lalu. Tapi ketika peradaban berkembang, garis itu makin tebal sampai akhirnya tampak seperti hukum alam yang tidak bisa diganggu gugat.
Lalu Sekarang?
Masalahnya, sistem yang punya logika fungsional di masa lalu tidak otomatis masih relevan sekarang. Dan inilah yang membuat patriarki kini banyak dikritik: sistem ini tidak lagi menjawab kebutuhan zaman, tapi masih berjalan seolah-olah iya.
Opresi perempuan oleh Taliban dalam nama patriarki.
(Sumber: AP/Ebrahim Noroozi)
Di ujung yang paling ekstrem, kita bisa melihat bagaimana patriarki bisa menjadi alat penindasan yang terang-terangan. Tapi patriarki tidak selalu beroperasi sekasar itu. Dalam kehidupan sehari-hari, sistem ini hadir lebih diam-diam: dalam anggapan bahwa pemimpin yang ideal adalah laki-laki, bahwa laki-laki yang menangis itu lemah, bahwa perempuan yang vokal itu “susah diatur”. Bentuknya lebih halus, tapi efeknya tidak kalah nyata.
Dalam diskusi, ada yang menilai bahwa fondasinya memang sudah rapuh. Di era kerja remote dan ekonomi berbasis pengetahuan, ukuran otot, dominasi fisik, akses ke ruang publik sudah tidak lagi relevan. Perempuan bisa produktif dari mana saja; tok kenyatannya laki-laki sama-sama bisa mengurus anak. Batas antara “domestik” dan “publik” sudah tidak sejelas dahulu kala.
Kemudian, stereotip soal laki-laki yang logis dan perempuan yang emosional juga tidak luput dari perdebatan. Kalau itu memang murni bawaan biologis, kenapa pola itu bisa bergeser begitu ada tekanan sosial yang berbeda? Penelitian oleh Chaplin (2015) menunjukkan bahwa perbedaan cara berpikir antar gender sering kali berkaitan dengan cara kita dididik saat kecil. Terdapat pula hipotesis yang menjelaskan bahwa perbedaan cara berpikir ini erat kaitannya dengan adaptasi terhadap peran historis yang dimana laki-laki terbiasa fokus karena sering memegang peran berburu, sementara perempuan terbiasa membaca banyak sinyal sekaligus saat meramu (Chaney et al., 2024). Hal ini bukan karena salah satu lebih “rasional” dari yang lain, melainkan bentuk penyesuaian dari jobdesk yang memerlukan kualitas tertentu dalam menjalankannya.
Jadi, Apakah Perlu Dihapus?
Sebelum menjawab, pertanyaannya perlu sedikit digeser. Yang jadi akar persoalan bukan sekadar sistem patriarki sebagai struktur, melainkan seksisme secara umum; keyakinan bahwa gender seseorang menentukan peran apa yang pantas ia pegang. Selama logika itu masih hidup, mengganti nama sistemnya tidak akan banyak mengubah kenyataan.
Dan yang sebenarnya dibutuhkan bukan hanya kesetaraan dalam angka seperti berapa persen perempuan di posisi ini, berapa laki-laki di posisi itu. Yang lebih mendasar adalah kesetaraan dalam cara kita memandang peran itu sendiri: bahwa mengurus rumah tangga sama hormatnya dengan memimpin perusahaan, dan bahwa keduanya bisa dilakukan oleh siapa pun tanpa harus meminta izin dari ekspektasi gender.
Poster “We Can Do It!”.
(Sumber: J. Howard Miller, 1943)
Dalam diskusi, ada satu hal yang cukup banyak disepakati: perubahan tidak datang dari kebijakan saja. Ia harus dimulai dari pola pikir, dari skala yang paling kecil. Dari orang tua yang tidak otomatis mengaitkan keberhasilan dengan anak laki-laki. Dari lingkaran pertemanan yang tidak mengolok-olok laki-laki yang memasak atau perempuan yang tidak mau menikah. Dari cara kita sendiri berhenti memberi label “maskulin” dan “feminin” pada hal-hal yang sebetulnya netral.
Di Indonesia, tafsir agama juga menjadi variabel yang tidak bisa diabaikan. Bukan agamanya yang jadi masalah, tapi cara sebagian orang membacanya dan menjadikan tafsir itu alat untuk mempertahankan struktur yang menguntungkan mereka. Di sinilah ruang untuk berdialog dan mendiskusikan ulang tafsir itu menjadi penting, meski tidak mudah.
Pada akhirnya, yang ingin dicapai bukan kemenangan satu pihak atas yang lain. Bukan membalik hierarki lama dan menciptakan yang baru. Tujuannya lebih sederhana dari itu; dan justru karena itu juga menjadi lebih sulit untuk kita sampai pada titik di mana setiap orang bisa bergerak sesuai kapasitas dan pilihannya sendiri, tanpa tekanan dari label yang tidak pernah mereka minta.
Penutup
Tidak ada yang keluar dari ruangan dengan satu jawaban pasti. Dan mungkin itu poin paling jujur dari seluruh diskusi ini: bahwa pertanyaan soal patriarki tidak punya jawaban tunggal yang bisa dibungkus rapi, dibagi ke semua orang, lalu selesai.
Yang ada adalah proses panjang, tidak linier, dan sering kali tidak nyaman. Tapi ia dimulai dari tempat-tempat kecil seperti ini: sebuah ruangan, beberapa orang, satu topik yang tidak ada yang benar-benar siap untuk menjawabnya sepenuhnya. Dan itu sudah cukup untuk jadi langkah pertama.
“Berpikir sebagai kelompok adalah tujuan akhir sebuah spesies. Kerjasama akan selalu menciptakan progress dan keadilan bagi semua pihak.”
Sumber:
Chaney, R. A., Baer, A., & Tovar, L. I. (2024). Gender-based heat map images of campus walking settings: a reflection of lived experience. Violence and gender, 11(1), 35-42.
Chaplin, T. M. (2015). Gender and emotion expression: A developmental contextual perspective. Emotion Review, 7(1), 14-21.
Gurven, M., & Hill, K. (2009). Why do men hunt? A reevaluation of “man the hunter” and the sexual division of labor. Current Anthropology, 50(1), 51-74.
Nuzzo, J. L. (2024). Sex differences in skeletal muscle fiber types: A meta‐analysis. Clinical anatomy, 37(1), 81-91.

0 Comments